kampung muslim Bali

Selasa, 01 Maret 2011

Walau Berilmu Tinggi,Namun Tetap Menghormati Ibunya


  Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.

Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.
Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.
"Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?" tanya Abu Hanifah.
"Alhamdulillah. .....ibu baik-baik saja," jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.
Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.
Suatu hari, ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.
"Aku tak mau mendengar kata-katamu, " ucap ibu Hanifah. "Aku hanya percaya pada fatwa Zar'ah Al-Qas," katanya lagi.
Zar'ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah." Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,"pinta ibunya.
Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar'ah Al-Qas.
"Saudaraku Zar'ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat," kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar'ah Al-Qas.
Zar'ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.
"Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?" tanya Zar'ah Al-Qas.
"Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda," sahut Abu Hanifah.
Zar'ah tersenyum," baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda," kata Zar'ah Al-Qas akhirnya.
"Ucapkanlah fatwamu," kata Abu Hanifah tegas.
Lalu Zar'ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.
"Aku percaya kalau kau yang mengatakannya, " kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar'ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.
...
Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.
Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.
"Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?" kata Umar bin Zar.
Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.
"Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar," kata Abu Hanifah.
Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.
"Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?"
Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.
"Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,"ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.
Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.
Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.

Ada Apa Dengan 25 Desember ???


  Banyak orang menduga bahwa hari lahirnya Yesus ini diambil dari kebiasaan orang kafir penyembah dewa matahari, karena tanggal 25 Desember itu adalah hari lahirnya dewa matahari. Maka dari itulah ada beberapa aliran Kristen yang "pantang" bahkan menganggap haram untuk merayakan tradisi Natal, sebagai contoh aliran Advent dan Yehova.



Tanggal kelahiran Yesus tidak tercantum di Alkitab, bahkan baru 300 tahun kemudian tanggal 25 Desember itu ditentukan secara resmi sebagai hari lahirnya ‘Tuhan’ Yesus oleh Paus Julius I (Bishop Roma 337 - 352). Jadi orang-orang Kristen sebelumnya tidak pernah merayakan hari Natal seperti orang Kristen jaman sekarang.

Menurut perhitungan kalender yang digunakan oleh kita pada saat ini, Yesus dilahirkan di Betahunlehem pada 2000 tahun yang lampau. Tahun kalender kita ini diciptakan pada abad ke 6 oleh seorang Biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga "anno Domini" = Tahunnya dari Tuhan.

Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan Kaiser Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM. Disamping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.


Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Josephus raja Herodes meninggal dunia pada tahun 4 SM dengan mana tanggal lahir nya Yesus harus dimundurkan sebanyak 4 tahun, "ini pun tidak benar" sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi, tetapi para ilmuwan sekarang telah membuktikan bahwa gerhana bulan tersebut terjadi bukan pada tanggal tersebut diatas melainkan pada tanggal 9 Januari tahun 1 SM. Tetapi yang sudah bisa dipastikan tanggal 25 Desember itu bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus.

Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya di padang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba, jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi. Disamping itu tidak mungkin pula Kaisar menyuruh penduduknya untuk jalan begitu jauh (karena dulu belum ada mobil) untuk menjalankan program sensus di musim dingin yang sudah banyak turun salju.

Pada sekitar tahun 320 Kaisar Kristen Romawi Konstantin memerintahkan Gereja untuk mengambil tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Yesus sebab pada tanggal tersebut adalah hari raya kaum kafir para penyembah Dewa Matahari yang dinamakan Saturnalia.


Berikut ini disalinkan apa adanya dari buku Perbandingan agama Kristen dan Islam karangan H. M. Arsjad Tahunalib Lubis hal 90 – 92.
“Kaum Kristen merayakan hari kelahiran Yesus (hari Natal/kelahiran) pada tanggal 25 Desember. Sebenarnya tahun dan tanggal kelahiran Yesus tidak dapat diketahui dengan pasti. Tanggal 25 Desember bukan tanggal kelahiran Yesus, tetapi tanggal kelahiran dewa matahari. Demikian juga tahun kelahiran Yesus tidak tepat pada tahun pertama dari tahun Masehi.”

Drs. M. E. Duyverman menulis sebagai berikut:
“Sangat mungkin kelahirannya jatuh pada tahun 6 atau 7 sebelum Masehi.”

Ds. B. J. boland menulis sebagai berikut:
“Tahun kelahiran Yesus tidak dapat ditentukan pasti; mungkin sekali antara 8 dan 6 sebelum Tarikh Masehi. Tanggal yang tepatpun sama sekali tidak diketahui. Tanggal yang lazim, yakni 25 Desember, hingga kinipun tidak dapat dipastikan kebenarannya (mungkin sekali tanggal itu diterima Kristen). Sebenarnya ketidak pastian itu juga tidak mengherankan. Sebab dalam Gereja Kristen zaman dahulu tanggal dan tahun kelahiran Yesus itu tidak dianggap penting. Hari raya yang terbesar ialah Paskah, bukan Natal! Hari Natal baru dirayakan di jemaat roma sejak tahun 354 (mungkin juga sejak tahun 335), di Konstantinopel sejak tahun 376, di Antiochia sejak tahun 388.”

Prof. dr. I. H. Enklaar menulis sebagai berikut:
“Masa raya kelahiran (hari Natal) pada tanggal 25 Desember berasal dari Roma pada abad ke IV; masa raya ini menjadi pengganti pesta kafir, yang dirayakan pada pertengahan musim dingin, karena pada saat itu matahari mulai bersinar kian hari kian lama dan panas lagi.”

Dean Farar dalam buku tulisannya yang beralamat "Riwayat Perjalanan Yesus" sudah menerangkan dengan pasti bahwa tidak ada bukti yang nyata yang membenarkan hari lahir Yesus tanggal 25 Desember. Bibel tidak mengatakan apa–apa akan hal itu, kecuali sedikit keterangan, yaitu: "Maka dalam jajahan negeri itu (Betleham; peny.) juga adalah beberapa kawan–kawan kambingnya pada malam (Injil Kitab Lukas 2: 8. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru)".

Kalau pada waktu itu Yesus dilahirkan, yaitu pada suatu malam ketika di padang terdapat beberapa orang gembala dengan kambingnya yang tinggal di situ pada waktu malam, maka tanggal 25 Desember itu susahlah akan diterima sebagai hari kelahiran Yesus. Sebab dalam bulan Desember tanggal 25 itu di tanah Judea musim hujan (salju) yang teramat hebat sehingga tiadalah seorang gembalapun dapat tinggal di padang di Betlehem dengan kambingnya pada waktu malam (lebih–lebih seorang perempuan yang baru habis melahirkan dan bayinya yang baru lahir itu yang menurut dogma mereka adalah orang yang sangat miskin dan ketika itu sama sekali tidak membawa perbekalan atau persiapan untuk hidup sekaligus melahirkan pada keadaan tersebut karena miskinnya. Menurut dogma, mereka tinggal di kandang kambing yang tebuka dan bayi hanya tertutup kain yang tipis yang hanya mungkin dilakukan di musim panas). Menurut kata tuan Usener, mula–mula orang merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari (Driekoningen). Akhirnya perayaan itu ketika tahun 353 Masehi diganti oleh Paus Liberius dijatuhkan pada tangga 25 Desember.

Akan tetapi sebelum abad yang ke empat tahun Masehi tidak ada bekas tanda–tanda orang merayakan hari kelahiran Yesus. Memang sebelum tahun 534 Masehi "Kerestmis (Chrismast; peny.)" dan "Driekoningen" tidak termasuk bilangan hari besar yang dirayakan.

Gereja gereja Khatolik sampai pada sekarang ini merayakan Chrismast pada tanggal 7 Januari, tidak pada 25 Desember sebagai mana Gereja Kristen yang lain–lain. Sebetulnya baru ketika tahun 530 Masehi orang menetapkan hari kelahiran Yesus. Pada waktu itu ditetapkan hari, bulan dan tahun kelahiran Yesus. Pekerjaan itu dilakukan oleh pendeta bangsa Scytahunian bernama Dionysius Exiguss; ia ahli nujum juga. Ia yang menentukan hari bulan dan tanggal yang sekarang dipakai dalam dunia Kristen. Apa sebabnya hari kelahiran Yesus ditetapkan pada tanggal 25 Desember satu atau dua hari maju mundur dari hari itu, ialah hari yang dianggap sebagai hari kelahiran beberapa macam dewa–matahari.
Menurut almanak Yulius hari itu hari lahirnya matahari, sang Mitahunra, seperti yang sudah kami terangkan, dilahirkan pada hari itu juga. Osiris, dewa orang Mesir menurut kata Plitarch dilahirkan pada 27 Desember. Horus, dewa yang lain lagi, dilahirkan pada 28 Desember. Dan Apollo dilahirkan pada hari itu juga. Nama–nama yang tersebut di atas itu semua nama dewa matahari.

Dr. J. L. Ch. Abinene menulis dalam buku "Ibadah Jemaat dalam abad–abad pertama" halaman 63 – 64 sebagai berikut:
  1. “Hari–hari Natal ini lama sekali tidak dirayakan oleh Gereja. Sebab, karena jemaat pertama tidak suka merayakan hari ulang tahun. Itu adalah kebiasaan kafir. Dalam seluruh Injil Perjanjian Baru tidak pernah kita membaca orang–orang Kristen yang merayakan hari ulang tahun mereka. Hanya orang–orang kafir saja, seperti Herodes (Injil Kitab Matius 14: 6. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru), yang berbuat demikian. Itulah yang antara lain menyebabkan bahwa sampai sekarang kita tidak tahu dengan pasti saat (hari dan bulan) manakah tuhan Yesus dilahirkan "ketika Kirenius menjadi wakil pemerintahan di Syiria (Injil Kitaab Lukas 2: 2. Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru).”
Sungguhpun demikian lama kelamaan jemaat merayakan juga hari raya Natal, mula–mula tanggal 6 Januari, di Mesir (sekitar abad ketiga), di Galia (360 M) dan di Spanyol (380 M). Kemudian jemaat di kota Romawi menyusul (akhir abad ke empat), tetapi pada tanggal yang lain: 25 Desember.


Dari keterangan di atas ternyata bahwa tanggal 25 Desember adalah pada mulanya hari perayaan orang kafir menyambut terbitnya matahari, bukan tanggal kelahiran Yesus, tetapi kemudian telah dirayakan sebagai tanggal kelahiran Yesus. Patut menjadi perhatian pula, bahwa penanggalan Masehi sebenarnya juga merupakan perhitungan (peringatan hari) kelahiran Yesus, jadi tanggal 1 Januari tahun 0 dianggap dengan hari kelahiran Yesus, hal ini selain bisa dilihat dari beberapa literatur, juga bisa diambil dari lambang–lambang yang berlaku padanya seperti tulisan AD (Anno Domino/tahun tuhan) atau TM (Tarich Masehi/Penanggalan Masehi/Penanggalan sejak Kristen turun/Penanggalan sejak Yesus lahir) dibelakang angka tahun untuk menyatakan waktu sejak tanggal 1 Januari tahun 0 hingga kini, dan tulisan BC (Before Christ/sebelum kelahiran Christus/sebelum kelahiran Yesus/sebelum turun Kristen) di belakang angka tahun untuk menyatakan waktu sejak tanggal 31 Desember sebelum tahun 0 hingga jauh sebelumnya. Jadi di sini ada kontradiksi yang sangat berat yang sama sekali tidak bisa terselesaikan tentang kelahiran Yesus (tuhan anak dari agama Kristen), yaitu antara tanggal 25 Desember dengan maju atau mundur sekitar 8 tahun dari tahun 0 yang dirayakan oleh umat Kristen kebanyakan, atau tanggal 7 Januari sekitar 8 tahun maju atau mundur dari tahun 0 yang dirayakan oleh umat Kristen golongan Katolik, atau tanggal 1 Januari tahun 0 seperti penanggalan Masehi yang berlaku hingga kini, manakah yang benar diantara ketiganya

Wallahu A’lam, apalagi harinya, jamnya, waktunya, situasinya, peristiwanya dan sebagainya. Mereka saja hingga kini sama sekali tidak tahu sehingga ketiganya dirayakan sekaligus oleh mereka, apalagi kita umat Islam yang nota bene sangat berbeda aqidah dan ajarannya.

Semoga bermanfaat…

NB. Kajian ini bahkan ditulis oleh orang-orang Kristen sendiri

Allahu A'lam...